Ribuan Warga Venezuela Lawan Campur Tangan AS dalam Aksi Massa di Caracas
Tangkapan Bitung — Ribuan warga Venezuela turun ke jalan di ibu kota Caracas pada hari Sabtu (6 Februari 2026) untuk memprotes campur tangan Amerika Serikat dalam urusan dalam negeri mereka. Demonstrasi ini merupakan respon terhadap kebijakan luar negeri AS yang semakin agresif terhadap Venezuela, terutama terkait dengan sanksi ekonomi dan upaya diplomatik yang bertujuan menggulingkan pemerintahan yang sah.
Protes yang berlangsung damai namun penuh semangat ini melibatkan kelompok-kelompok politik, aktivis sosial, serta rakyat biasa yang merasa bahwa intervensi asing telah memperburuk kondisi ekonomi dan sosial di negara mereka. Demonstrasi kali ini menegaskan solidaritas terhadap Presiden Nicolás Maduro dan pemerintahan Venezuela, yang telah berulang kali menuduh AS berusaha mengganggu kedaulatan negara mereka dengan menggunakan berbagai cara, dari sanksi hingga tekanan diplomatik.
Protes Besar-Besaran di Pusat Caracas
Ribuan peserta aksi memadati Plaza Bolívar, pusat simbolik dan politik Caracas, dengan mengibarkan bendera Venezuela, serta spanduk yang mengecam kebijakan luar negeri AS. Beberapa poster bertuliskan “No to U.S. Interference” dan “Venezuela Libre” (Venezuela Merdeka) menggema di sepanjang jalan-jalan utama kota.
Salah satu orator utama dalam aksi tersebut, José Luis Hernández, seorang pemimpin oposisi yang berafiliasi dengan Gerakan Revolusioner Bolivariano, mengingatkan bahwa campur tangan asing tidak hanya melanggar prinsip-prinsip kedaulatan negara tetapi juga merusak kehidupan rakyat Venezuela.
Baca Juga: Pemerintah Jepang Mau Hidupkan Pangkat Era PD II Militer Malah Tolak
Sanksi AS dan Dampaknya terhadap Venezuela
Sanksi yang diterapkan oleh AS terhadap Venezuela telah berlangsung selama bertahun-tahun dan semakin meningkat, terutama setelah pemerintahan Donald Trump dan dilanjutkan oleh pemerintahan Joe Biden. Sanksi-sanksi tersebut menargetkan berbagai sektor ekonomi negara, mulai dari industri minyak—sumber utama pendapatan negara—hingga sektor keuangan dan impor barang-barang vital. Hal ini memperburuk situasi ekonomi Venezuela, yang sudah berada dalam kondisi yang sulit akibat krisis politik dan sosial.
“AS telah berperan besar dalam mendorong kesulitan ekonomi kami. Ekspor minyak yang dulunya menopang perekonomian kini terhambat, dan sanksi tersebut menghancurkan pasar kami,” ujar Carmen Rodríguez, seorang ibu rumah tangga yang bergabung dalam protes tersebut.
Ribuan Warga Venezuela Solidaritas dari Beberapa Negara dan Organisasi Internasional
Protes ini juga mendapat perhatian internasional, dengan beberapa negara dan organisasi mengutuk campur tangan AS di Venezuela.
Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga telah beberapa kali menyatakan keprihatinan tentang dampak sanksi ekonomi terhadap rakyat sipil di Venezuela.
Pernyataan Maduro dan Reaksi Pemerintah AS
Presiden Nicolás Maduro, yang telah berkuasa sejak 2013, dengan tegas menanggapi protes tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada rakyat Venezuela atas dukungan mereka.
“Venezuela adalah negara merdeka dan kami akan terus menolak segala bentuk campur tangan luar. Rakyat Venezuela telah berbicara dengan jelas, dan kami akan berdiri teguh melawan siapa pun yang berusaha merusak kemerdekaan kami,” tegas Maduro.
Pemerintah AS, melalui juru bicara Departemen Luar Negeri, segera merespons dengan menegaskan bahwa mereka akan terus mendukung oposisi Venezuela dalam upaya untuk menggulingkan rezim Maduro. Washington menyatakan bahwa mereka berkomitmen untuk mendorong perubahan politik di Venezuela dan akan terus memberikan sanksi sebagai tekanan terhadap pemerintah Maduro.





